Senin, 22 Desember 2014
Linguistik Umum
Linguistik adalah ilmu bahasa , atau telaah ilmiah mengenai bahasa manusia
Linguistik juga sering disebut lingistik umum (general linguistics) karena linguistik tidak hanya mengkaji sebuah bahasa saja (seperti bahasa jawa), melainkan mengkaji bahasa pada umumnya.
Linguistik umum adalah linguistik yang mempelajari : kaidah-kaidah bahasa secara umum, bukan bahasa tertentu. Kaidah-kaidah khusus / spesifik mempelajari bahasa arab/bahasa sunda. Kajian khusus ini juga bisa dilakukan terhadap satu rumpun / subrumpun bahasa misal rumpun bahasa austronesia, atau subrumpun indo-german. Langage : berarti bahasa secara umum, seperti tampak dalam ungkapan “manusia punya bahasa sementara hewan tidak”.
Langue : artinya suatu bahasa tertentu, seperti bahasa arab, bahasa inggris, atau bahasa jawa
Parole : adalah bahasa dalam wujudnya yang konkret yang berupa ujaran.
Jumat, 19 Desember 2014
Takbir Mursal Masyarakat Karangawen
Takbir mursal adalah istilah lain dari takbir
keliling. Takbir mursal dilaksanakan oleh muslimin dan muslimat setelah buka
terakhir di Bulan Ramandhan. Takbir mursal sudah mentradisi sejak puluhan tahun
lalu di desa-desa di Kecamatan Karangawen. Habis magrib para penduduk yang
memeluk Agama Islam berkumpul di masjid. Setelah Isya’ dilanjutkan berjalan
kaki meneriakkan takbir keliling kampung. Dulu saat listrik belum masuk desa
dan mesin diesel belum popular penerangan dilakukan menggunakan oncor,
lampu yang terbuat dari bambu. Takbir mursal menggunakan pengeras suara
bertenaga acu yang diangkut dengan oyol di atas sepeda. Untuk
meramaikan suasana takbiran diiringi tetabuhan kentongan.
Seiring waktu, masyarakat semakin mengenal kemajuan
dan teknologi. Listrik juga telah masuk desa. Siaran stasiun televisi baik
negeri maupun swasta sudah dapat ditonton kapanpun di kampung.
Hal-hal di atas mempengaruhi bentuk takbir mursal,
terdapat penambahan pernak-pernik di sana-sini. Sekarang penerangan menggunakan
lampu neon dengan tenaga solar. Demikian juga pengeras suara, diangkut
mengunakan mubil bak terbuka. Tetabuhan tidak lagi menggunakan kentongan tetapi
menggunakan drum bekas tempat tahu. Penabuh drum sudah diatur sedemikian rupa
sehingga menyerupai group drumband.
Satu lagi hal yang membedakan takbir mursal dulu
dengan sekarang adalah takbir mursal sekarang terdapat adanya patung berukuran
raksasa yang diusung oleh peserta rombongan takbir mursal. Patung itu terbuat
dari anyaman bambu dan dilapisi kertas. Bentuk patung bermacam-macam, ada yang
berbentuk hewan, robot, masjid, dan lain sebagainya. Semakin hari kualitas
patung juga semakin baik.
Selalu saja ada usaha menyelipkan pesan dalam takbir
mursal. Pesan-pesan itu di antaranya pemeliharaan lingkungan, pesan untuk
tidak menggunakan narkoba, pesan untuk selalu taat kepada ajaran agama, dan
pesan-pesan bijak lainnya.
Takbir mursal adalah tradisi masyarakat Karangawen.
Tradisi menurut Rendra ( 1983) adalah kebiasaan yang turun-temurun dalam sebuah
masyarakat. la merupakan kesadaran kolektif sebuah masyarakat. Takbir mursal
adalah wujud kebudayaan masyarakat Karangawen. Koentjaraningrat berpendapat
bahwa terdapat tiga unsur kebudayaan yaitu ide, wujud tindakan, dan hasil-karya
manusia. Takbir mursal adalah wujud kebudayaan yang berupa tindakan.
Takbir mursal adalah ekspresi masyarakat Karangawen terhadap kondisi
terkini Indonesia dan dunia.
Positif-negatif takbir mursal
Mulanya takbir mursal hanya dilakukan ditingkat desa.
Semua masjid dan mushola membentuk rombongan dan bergabung menjadi rombongan
besar bermuara di rumah kepala desa. Saat ini rombongan semakin besar
karena desa-desa yang dekat dengan kecamatan seperti desa Karangawen,
Brambang, Sidorejo, dan Bumirejo, bergabung menjadi satu dan
berjalan melewati kantor Kecamatan.
Takbir mursal Karangawen dikenal sampai daerah-daerah
tetangga. Hal ini karena pemberitaan media baik cetak maupun elektronik di
setiap penyelengaraannya. Bahkan pada lebaran tahun kemarin mahasiswa dari Cina
dan Swedia yang kuliah di Perguruan Tinggi di Semarang menyempatkan hadir untuk
menyaksikanya. Jumlah penonton ribuan memenuhi kanan kiri jalan. Saat ini
antara Karangawen dan takbir mursal setali tiga uang. Orang-orang luar daerah
mengenal Karangawen karena takbir mursal. Takbir mursal telah menjadi tanda
bagi keberadaan Karangawen.
Segala peristiwa selalu saja ada sisi negatifnya,
demikian pula takbir mursal di Karangawen ini. Berikut sisi negatif takbir
mursal. Pertama, karena melintasi jalan provinsi maka takbir mursal menimbulkan
kemacetan. Saat malam lebaran volume kendaraan jalan provinsi antara Semarang –
Purwodadi penuh. Hal ini terjadi karena banyaknya masyarakat yang melaksanakan
perjalanan mudik. Kedua, seringkali terdapat rombongan nakal yang memanfaatkan
acara ini sebagai sarana hura-hura seperti meminum minuman keras,
meledakkan mrecon sembarangan sehingga tidak jarang mengakibatkan perkelahian.
Suasana takbir yang harusnya khusuk menjadi rusak dengan adanya kelompok nakal
ini.
Untuk menghindari dampak negatif di atas mulai dari
tahun kemarin pemerintah setempat mengambil kebijakan dengan melarang
pelaksanaan takbir mursal di jalan provinsi. Takbir mursal hanya boleh
dilaksanakan di jalan kampung masing-masing. Akibatnya pada tahun kemarin
penonton dari daerah lain banyak yang kecewa. Mereka tidak mendapat informasi
atas kebijakan pemerintah setempat tersebut. Mereka terlanjur memilih tempat di
kanan kiri jalan provinsi antara SMP N 1 Karengawen sampai Terminal Karangawen.
Padahal rombongan takbir mursal tidak melewati jalan tersebut.
Karena sudah
menjadi ‘petanda’ dan ruang ekspresi masyarakat Karangawen maka masalah di atas
harus dicarikan solusi yang lebih bijak agar takbir mursal tetap berlangsung,
penonton tetap bisa menikmati, tetapi tidak ada yang dirugikan termasuk
pengguna jalan yang melaksanakan perjalanan mudik.
Kamis, 18 Desember 2014
Geni Mubal ing Bumi Tegalrejo
Kakang…
kakang Prasaja!.. Kakang ing ndalem Tegalrejo kok katon rame.
Ana sing nggawa pedhang, tumbak lan malah siap-siap ngunus keris
barang. Ana apa ta kakang? Kaya arep geger wae,” Sawitri kang mentas
mulih saka pasar bengok-bengok marang bojone kang lagi ngungkal gaman.
“Lho
kowe wis teka ta adhi Sawitri,” Prasaja nyawang bojone sing krenggosan. “Adhi
Sawitri, dalem Tegalrejo arep diserang Landa. Ana kabar para serdhadhu arep
ngrangket Njeng Pangeran Dipanegara,” ucape Prasaja karo nyawang gamane kang
katon landhep mingis-mingis.
“Kosik,
njur lupute Njeng Pangeran apa? Panjenengane iku priyayi kang lembah manah,
ngajeni marang sapadha-padha. Ora mbedakake kawula cilik utawa priyayi luhur,
kabeh direngkuh minangka sedulur.”
“Sliramu
kelingan apa ora karo prastawa pathok kang ditandur ing pekarangan dalem
Tegalrejo. Pathok iku dipasang dening utusane Patih Danureja kanggo gawe
dalan sepur. Kanjeng Pangeran Dipanegara dhawuh supaya pathok dijabuti. Ning
Njeng Pangeran malah diluputake, dianggep mbalela mring ratu lan ora ngajeni
Walanda.”
“Dadi
kumpule para kawula ing dalem Tegalrejo iku arep mbelani Njeng Pangeran? Lha
kowe kok isih thenguk-thenguk neng omah? Kamangka sasuwene iki uripe awake
dhewe kena diarani nunut dalem Tegalrejo, mangan wulu wetu saka pekarangan
dalem Tegalrejo. Apa atimu cilik adu arep karo Walanda kang agegaman bedhil?
Yen kowe ora wani aku wae sing mrana kakang, kowe kariya ana ngomah.”
“Aku
ki ya arep mrana, dhi. Aku mau nunggu kowe saperlu pamit.”
“Aku
melu Kakang!”
“Hus
ora kena. Mbebayani. Sebab doh blaine iki mengko bisa campuh perang.”
“Aja
nyepelekake wanita kakang. Ala-ala aku biyen tau nyinau ilmu kanuragan marang
Kiai Jupri kidul Pasar Gedhe.”
“Yen
pancen wis dadi antebing tekadmu, ayo bebarengan menyang dalem Tegalrejo.”

Kanthi
cepet dheweke mlumpat karo mbalangake glathi cilik ngener dhadhane serdhadhu
murang tata
Temanten
anyar iku banjur gegancangan menyang Tegalrejo. Swasanane tambah rame.
Sing kumpul ora mung para kawula ing wilayah Tegalrejo wae,
nanginguga saka kampung-kampung liya. Ana kang saka Mlangi, Krapyak, Wonokromo,
Kotagede lan liya-liyane.
Saya
awan kahanane saya panas. Ana kabar menawa Walanda nedya ngrangket Pangeran
Dipanegara lan diselong menyang tanah sabrang. Para pendherek ora lila.
Kabeh padha saeka kapti mbelani sesembahane. Kepara ora wigah-wigih nyorohake
jiwa raga.
“Nedha
nrima yen panjenengan kabeh duwe karep mbelani aku. Nanging aja gampang
kebrongot, sing sabar. Aku arep nulis layang konjuk
Kanjeng Sultan supaya Patih Danureja dicopot, merga sasuwene iki
dheweke asring gawe dhak-dhakan pasulayan ana Kraton Ngayogyakarta. Kebeneran
Paman Pangeran Mangkubumi rawuh, mengko layangku bakal daktitipake
panjenengane.”
Kamis, 11 Desember 2014
Fonologi
Fonologi ialah bagian
dari ilmu bahasa yang mempelajari tata bunyi/kaidah bunyi dan cara
menghasilkannya. Mengapa bunyi dipelajari? Karena wujud bahasa yang
paling primer adalah bunyi. Bunyi adalah Getaran udara yang masuk ke telinga
sehingga menimbulkan suara.
Bunyi bahasa adalah
bunyi yang dibentuk oleh tiga faktor, yaitu pernafasan (sebagai sumber tenaga),
alat ucap (yang menimbulkan getaran), dan rongga pengubah getaran (pita suara).
Fonologi dibedakan menjadi, fonetik dan fonemik. Didalam fonologi terdapat
istilah fonem, fon, dan alofon. Fonem adalah satuan bunyi terkecil yang masih abstrak
atau yang tidak diartikulasikan. Fonem merupakan aspek bahasa pada aspek langue
(istilah de Sausure), misalnya /t/. /d/, /c/. Fon adalah realisasi dari fonem (parole),
atau bunyi yang diartikulasikan (diucapkan) misalnya {lari}. Alofon adalah
perbedaan bunyi yang tidak menimbulkan perbedaan makna, misalnya
/i/ dan /I/ dalam /menangIs/.
Bunyi Vokal : bunyi
yang tidak mengalami hambatan di daerah artikulator. Disebut juga huruf
hidup karena dapat berdiri sendiri dan dapat menghidupkan konsonan. Terdiri
dari : a, i, u, e, o. Diftong → au, ai, oi.
Fonetik
A. Klasifikasi vokal :
1. Berdasarkan bentuk bibir
· Vokal bulat → a, o, u
· Vokal lonjong → i, e
A. Klasifikasi vokal :
1. Berdasarkan bentuk bibir
· Vokal bulat → a, o, u
· Vokal lonjong → i, e
2. Berdasarkan tinggi
rendah lidah
· Tinggi → i
· Tengah → e
· Bawah → a
· Tinggi → i
· Tengah → e
· Bawah → a
3. Berdasarkan maju
mundurnya lidah
· Depan → i, a
· Tengah → e
· Belakang → o
· Depan → i, a
· Tengah → e
· Belakang → o
B. Bunyi Konsonan
Bunyi Konsonan adalah
bunyi yang mengalami hambatan dalam pengucapan.
1. Pembentukan konsonan
a) Bilabial :
pembentukan konsonan oleh 2 bibir. (b, p, m)
b) Apikodental :
pembentukan konsonan oleh ujung lidah dan gigi (t, d, h)
c) Labiodental :
pembentukan konsonan oleh gigi dan bibir (f, v)
d) Palatal : lidah
– langit-langit keras (c, j)
e) Velar :
belakang lidah – langit-langit lembut (k,g)
f) Hamzah
(glottal stop) : posisi pita suara tertutup sama sekali.
g) Laringal : pita
suara terbuka lebar, udara keluar melalui geseran.
C. Macam-macam bunyi
bahasa
a. Bunyi Segmental
Bunyi segmental ialah
bunyi yang dihasilkan oleh pernafasan, alat ucap dan pita suara. Bunyi Segmental
ada empat macam
Konsonan= bunyi yang
terhambat oleh alat ucap
Vokal = bunyi yang
tidak terhambat oleh alat ucap
Diftong= dua vokal yang
dibaca satu bunyi, misalnya: /ai/ dalam sungai, /au/ dalam /kau/
Kluster= dua konsonan
yang dibaca satu bunyi.
Contoh Kluster/Konsonan
Rangkap
ng: yang
ny: nyonya
kh: khusus, khas,
khitmad,
pr: produksi,
prakarya, proses
kr: kredit,
kreatif, kritis, krisis
sy: syarat, syah,
syukur
str: struktur,
strata, strategi
spr: sprai
tr :
tradisi, tragedi, tragis, trauma, transportasi.
b. Bunyi Supra
Segmental
Dalam suatu runtutan
bunyi yang sambung-bersambung terus-menerus diselangseling dengan jeda singkat
atau agak singkat, disertai dengan keras lembut bunyi, tinggi rendah bunyi,
panjang pendek bunyi, ada bunyi yang dapat disegmentasikan yang disebut bunyi
segmental.
1 . Tekanan
atau Stres
Menyangkut masalah
keras lunaknya bunyi.
2 . Nada
atau Pitch
Berkenaan dengan tinggi
rendahnya bunyi.
3
Jeda atau Persendian
Berkenaan dengan
hentian bunyi dalam arus ujar.
Jeda antar kata, diberi
tanda ( / )
Jeda antar frase,
diberi tanda ( // )
Jeda antar kalimat,
diberi tanda ( # )
Fonemik
1. Fonetik adalah
bagian dari studi linguistik yang mempelajari bunyi bahasa secara umum, tanpa
memperhatikan makna, yang tidak bersifat fungsional, kajian bunyi bahasa
manapun. Sedangkan fonemik adalah bagian dari studi linguistik yang mempelajari
bahasa tertentu yang memperhatikan perbedaan makna.
2. Fonemisasi adalah salah satu prosedur atau cara menemukan fonem suatu bahasa. Penemuan fonem suatu bahasa itu didasarkan pada data-data yang secara fonetis akurat. Salah satu prosedur fonemisasi adalah “pasangan minimal” (minimal pairs). Pasangan minimal, yaitu bentuk-bentuk bahasa yang terkecil dan bermakna dalam sebuah bahasa yang secara ideal sama, kecuali satu bunyi yang tidak sama. Hasil dari fonemisasi dengan prosedur pasangan minimal adalah ditemukannya suatu fonem, yaitu satuan bunyi yang terkecil yang fungsional atau distingtif, dalam arti membedakan makna.
2. Fonemisasi adalah salah satu prosedur atau cara menemukan fonem suatu bahasa. Penemuan fonem suatu bahasa itu didasarkan pada data-data yang secara fonetis akurat. Salah satu prosedur fonemisasi adalah “pasangan minimal” (minimal pairs). Pasangan minimal, yaitu bentuk-bentuk bahasa yang terkecil dan bermakna dalam sebuah bahasa yang secara ideal sama, kecuali satu bunyi yang tidak sama. Hasil dari fonemisasi dengan prosedur pasangan minimal adalah ditemukannya suatu fonem, yaitu satuan bunyi yang terkecil yang fungsional atau distingtif, dalam arti membedakan makna.
Asimilasi merupakan
peristiwa berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyi lain sebagai akibat dari bunyi
yang ada di lingkungannya. Disimilasi yaitu perubahan dua buah fonem yang sama
menjadi fonem yang berlainan. Kontraksi adalah pemendekan bentuk ujaran yang
ditandai dengan hilangnya sebuah fonem atau lebih.
Fonem
dan grafem
Fonem adalah satuan
bunyi bahasa terkecil yang fungsional atau dapat membedakan makna kata. Untuk
menetapkan apakah suatu bunyi berstatus sebagai fonem atau bukan harus dicari
pasangan minimalnya.
Alofon merupakan
realisasi sebuah fonem. Alofon dapat dilambangkan dalam wujud tulisan atau
transkripsi fonetik yaitu penulisan pengubahan menurut bunyi, dan tandanya
adalah […]. Grafem merupakan pelambangan fonem ke dalam transkripsi ortografis,
yaitu penulisan fonem-fonem suatu bahasa menurut sistem ejaan yang berlaku pada
suatu bahasa, atau penulisan menurut huruf dan ejaan suatu bahasa.
Langganan:
Postingan (Atom)