Sabtu, 02 Januari 2016

Kalimat Efektif dan Tidak Efektif beserta Pembahasannya



1.      Dia sedang menonton.
Kalimat tersebut tidak efektif karena kata dia belum menunjuk siapa orangnya dan kata menonton belum menjelaskan sang dia sedang menonton apa.
Bentuk kalimat efektifnya yaitu : Susi sedang menonton televisi.
2.      Tugas itu akan selesai dalam waktu enam jam.
Kalimat tersebut tidak efektif karena kata tugas itu belum menunjukan nomina utuh.
Bentuk kalimat efektifnya yaitu : Tugas dari kampus akan selesai dalam waktu enam jam.
3.      Pada bulan itu dia pergi berlibur.
Kalimat tersebut tidak efektif karena kata bulan belum menunjukkan bulan keberapa dan kata dia belum menunjuk siapa orangnya.
Bentuk kalimat efektifnya yaitu : Pada bulan Desember tetanggaku pergi berlibur.
4.      Gubernur itu sedang melaksanakan tugas.
Kalimat tersebut tidak efektif karena kata itu belum menunjuk gubernur daerah mana.
Bentuk kalimat efektifnya yaitu : Gubernur Jawa Timur sedang melaksanakan tugas.
5.      Pertemuan itu dipimpin langsung oleh Bapak Presiden Republik Indonesia
Kalimat tersebut tidak efektif karena terlalu panjang dan kata pertemuan itu belum menjelaskan nama pertemuan apa itu.
Bentuk kalimat efektifnya yaitu : Pertemuan Bilateral dipimpin Presiden.
6.      Di setiap perusahaan terdapat seseorang mandor yang galak.
Kalimat tersebut tidak efektif karena terlalu panjang.
Bentuk kalimat efektifnya yaitu : Setiap perusahaan terdapat seorang mandor.
7.      Dia berhasil terhindar daripada kecelakaan itu.
Kalimat tersebut tidak efektif karena salah dalam pengunaan kata daripada yang seharunya menggunakan kata dari.
Bentuk kalimat efektifnya yaitu : Dia berhasil terhindar dari kecelakaan itu.
8.      Banyak juga yang mengira kalau dia itu seorang konglomerat.
Kalimat tersebut tidak efektif karena kata kalau merupakan kata sebab akibat yang seharusnya tidak efektif jika digunakan pada kalimat di atas, karena kalimat di atas merupakan kalimat informasi bukan kalimat yang mengandung unsur sebab akibat.
Bentuk kalimat efektifnya yaitu : Banyak juga yang mengira bahwa dia seorang konglomerat.
9.      Saran yang di kemukakannya kami akan pertimbangkan.
Kalimat tersebut tidak efektif karena kalimat di atas terjadi penggunaan prase kami akan yang seharusnya menggunakan prase akan kami, prase akan kami merupakan suatu tindak lanjut yang dilakukan  untuk kedepannya. Sedangkan prase kami akan tidak sesuai digunakan untuk kontek di atas.
Bentuk kalimat efektifnya yaitu : Saran yang dikemukakannya akan kami pertimbangkan.
10.  Karena ia tidak datang, dia tidak di pilih dalam acaran itu.
Kalimat tersebut tidak efektif karena pada kalimat di atas menyebutkan subjek dua kali yaitu pada kata ia dan dia dalam satu kalimat sehingga dapat menjadikan salah dalam menafsirkannya.
Bentuk kalimat efektifnya yaitu : Karena tidak datang, ia tidak dipilih dalam acara itu.
11.  Soal itu saya kurang jelas.
Kalimat tersebut tidak efektif karena pada kalimat di atas tidak menunjukkan siapa yang menjadi subjek.
Bentuk kalimat efektifnya yaitu : Soal itu bagi saya kurang jelas.
12.  Tempat itu dia tidak cocok.
Kalimat tersebut tidak efektif karena kurangnya penegasan buat siapa saran itu ditujukan, untuk mempertegas kalimat tersebut yaitu harus di tambah kata bagi di antara kata  itu dan dia.
Bentuk kalimat efektifnya yaitu :  Tempat itu bagi dia tidak cocok.
13.  Banyak berbagai macam jenis-jenis bunga yang di perjual belikan di rumah Eliana.
Kalimat tersebut tidak efektif karena dalam penyusunan kalimatnya tidak dilakukan secara sistematis sehingga mengakibatkan kalimat tersebut menjadi tidak efektif.
Bentuk kalimat efektifnya yaitu : Banyak macam jenis bunga yang di perjual belikan di rumah Eliana.
14.  Semua warga-warga Ds. Sidomulyo berkumpul di depan Balai Desa untuk mencari tahu info tentang kecelakaan antara delman dan truk.
Kalimat tersebut tidak efektif karena menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak, yaitu pada kata warga-warga.
Bentuk kalimat efektifnya yaitu : Semua warga Ds. Sidomulyo berkumpul di depan Balai Desa untuk mencari tahu info tentang kecelakaan antara delman dan truk.
15.  Bapak Budino meninggal karena tergilas mobil.
Kalimat tersebut tidak efektif karena kalimat di atas disebabkan oleh ketidak tepatan dalam pemilihan kata yaitu pada kata tergilas yang sebaiknya menggunakan kata tertabrak.
Kalimat efektifnya yaitu : Bapak Budino meninggal karena tertabrak mobil.
16.  Bagi mahasiswa yang mengikuti mata kuliah ini diharapkan membeli buku.
Kalimat tersebut tidak efektif karena salah dalam menempatkan kata bagi, kata bagi tidak boleh digunakan pada awal kalimat, kalimat di atas akan menjadi efektif jika kata bagi diganti menjadi kata semua.
Kalimat efektifnya yaitu : Semua mahasiswa yang mengikuti mata kuliah ini diharapkan membeli buku.
17.  Banyak juga yang mengira kalau dia itu seorang konglomerat.
Kalimat tersebut tidak efektif karena kata kalau tidak dapat digunakan untuk kata penjelas, karena isi kalimat diatas menjelaskan sesuatu yaitu tentang anak  seorang konglomerat.
Bentuk kalimat efektifnya yaitu : Banyak juga yang mengira bahwa dia seorang konglomerat.
18.  Untuk mempersingkat waktu, kita teruskan acara ini.
Kalimat tidak efektif  karena waktu tidak bisa dipersingkat, seharusnya kata mempersingkat diganti dengan kata menghemat.
Bentuk kalimat efektifnya yaitu : Untuk menghemat waktu, kita teruskan acara ini.
19.  Bagi semua dosen yang hadir dalam rapat hari ini harus membuat laporan.
Kalimat tersebut tidak efektif karena salah dalam menempatkan kata bagi, kata bagi tidak boleh digunakan pada awal kalimat, kalimat di atas akan menjadi efektif jika kata bagi diganti menjadi kata semua.
Bentuk kalimat efektifnya yaitu : Semua dosen yang hadir dalam rapat kali ini harus membuat laporan.
20.  Mereka membicarakan daripada kehendak rakyat.
Kalimat tersebut tidak efektif karena menyisipkan kata diantara predikat dan objek sehingga membuat kalimat tersebut menjadi tidak adanya suatu kepaduan.
Bentuk kalimat efektifnya yaitu : Mereka membicarakan kehendak rakyat.
21.  Mahasiswa perguruan tinggi yang terkenal itu menerima hadiah.
Kalimat tersebut tidak efektif karena memiliki makna ganda, yaitu siapa yang terkenal, mahasiswa atau perguruan tinggi, sehingga menimbulkan penafsiran ganda.
Bentuk kalimat efektifnya yaitu : Mahasiswa yang terkenal itu menerima hadiah.
22.  Mobil yang di parkir yang di pinggir itu miliknya.
Kalimat tersebut tidak efektif karena di dalam penggunaan kata yang dilakukan untuk menunjukkan suatu hal yang sama yaitu berupa tempat tidak efektif jika digunakan dalam satu kalimat, jika hal ini terjadi maka akan salah dalam penapsiran.
Bentuk kalimat efektifnya yaitu :  Mobil yang di parkir di pinggir itu miliknya.
23.  Di mana engkau menangkap burung pipit itu?
Kalimat tersebut tidak efektif karena tidak menghindarkan pemakaian superordinat pada hiponim kata sehingga terjadi pemborosan kata.
Bentuk kalimat efektifnya yaitu :  Di mana engkau menangkap pipit itu?
24.  Hadirin serentak berdiri ketika mereka menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Kalimat tersebut tidak efektif karena pada kalimat di atas menyebutkan subjek dua kali yaitu pada kata hadirin dan mereka kata dua ini merupakan  satu subjek yang dibicarkan dalam satu kalimat sehingga dapat menjadikan salah dalam menafsirkannya.
Bentuk kalimat efektifnya yaitu : Hadirin serentak berdiri ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya.
25.  Sungguh sangat benar-benar menderita anak itu.
Kalimat tersebut tidak efektif karena terjadi redudansi pada kata benar-benar. Definisi darikata benar adalah sesuatu yang sesuai sebagaimana adanya. Artinya reduplikasi pada kata benar yang digunakan mengandung makna sangat.
Bentuk kalimat efektifnya yaitu :  Sungguh sangat menderita anak itu.

Rabu, 30 Desember 2015

Tulisan Karya Ilmiah Sendiri















BAHASA SLANG PADA KOMUNITAS CREMBOL DI BANARAN






Oleh:


Nama : Aditya Denny Sundoro


NIM : 2601413085


Rombel : 3


Mata Kuliah : Sosiolinguistik






JURUSAN BAHASA DAN SASTRA JAWA


FAKULTAS BAHASA DAN SENI


UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG


2015









BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Sosiolinguistik adalah kajian tentang bahasa yang dikaitkan dengan kondisi kemasyarakatan. Di dalam sosiolinguistik terdapat variasi bahasa yang diantaranya adalah bahasa slang. Variasi bahasa adalah ragam bahasa. Bahasa slang adalah bahasa yang digunakan oleh sekelompok orang tertentu dan yang memahami adalah orang tertentu itu tersebut. Komunitas adalah sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama. Dalam komunitas manusia, individu-individu di dalamnya dapat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko, kegemaran dan sejumlah kondisi lain yang serupa. Komunitas crembol adalah komunitas anak muda daerah Banaran, Gunungpati. Banaran adalah salah satu dukuh di Kelurahan Sekaran Kecamatan Gunungpati Kota Semarang. Komunitas Crembol mempunyai bahasa slang yang hanya dipahami oleh anggota komunitas Crembol Sendiri.


1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana bahasa slang yang digunakan oleh komunitas crembol ?

2. Bagaimana keunikan bahasa yang digunakan oleh komunitas crembol ?


1.3 Manfaat Penelitian


1. Dapat memahami bahasa slang yang digunakan oleh komunitas crembol


2. Dapat mengetahui keunikan bahasa yang digunakan oleh komunitas crembol


1.4 Tujuan Penelitian


Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi penyelesaian tugas akhir pada mata kuliah Sosiolinguistik serta memahami bahasa slang pada komunitas Crembol.





BAB II
LANDASAN TEORI


2.1 Bahasa


Studi bahasa adalah suatu bidang studi yang sifatnya multidisipliner, di samping sebagai disiplin tersendiri, studi bahasa banyak melibatkan disiplin-disiplin ilmu pengetahuan yang lain. Sosiolinguistik adalah kajian tentang bahasa yang dikaitkan dengan kondisi kemasyarakatan. Sosiolinguistik menempatkan kedudukan bahasa dalam hubungannya dengan pemakaiannya di dalam masyarakat. Pemakaian bahasa (language use) adalah bentuk interaksi social yang terjadi dalam situasi kongkret. Sebagai gejala social, bahasa dan pemakaian bahasa tidak hanya ditentukan oleh factor-faktor linguistic tetapi juga factor-faktor nonlinguistic yaitu factor social dan factor situasional. Factor social antara lain: status social, tingkat pendidikan, umur, tingkat ekonomi, dan jenis kelamin. Sedangkan factor situasional antara lain: siapa berbicara dengan bahasa apa. Kepada siapa, kapan, dimana, dan mengenai masalah apa. Adanya factor social dan situasional mempengaruhi pemakaian bahasa maka timbulah variasi-variasi bahasa.


2.2 Variasi Bahasa


Ragam bahasa adalah varian dari sebuah bahasa menurut pemakaian. Berbeda dengan dialek yaitu varian dari sebuah bahasa menurut pemakai. Variasi tersebut bisa berbentuk dialek, aksen, laras, gaya, atau berbagai variasi sosiolinguistik lain, termasuk variasi bahasa baku itu sendiri. Variasi di tingkat leksikon, seperti slang dan argot, sering dianggap terkait dengan gaya atau tingkat formalitas tertentu, meskipun penggunaannya kadang juga dianggap sebagai suatu variasi atau ragam tersendiri


Variasi bahasa menunjukkan bahwa bahasa atau lebih tepatnya pemakaian bahasa itu bersifat aneka ragam (heterogen). Sosiolinguistik menyoroti keseluruhan masalah yang berhubungan dengan organisasi social perilaku bahasa, tidak hanya mencakup pemakaian bahasa saja, melainkan juga sikap-sikap bahasa, perilaku terhadap bahasa dan pemakaian bahasa. Variasi Bahasa disebabkan oleh adanya kegiatan interaksi sosial yang dilakukan oleh masyarakat atau kelompok yang sangat beragam dan dikarenakan oleh para penuturnya yang tidak homogen. Dalam hal variasi bahasa ini ada dua pandangan. Pertama, variasi itu dilihat sebagai akibat adanya keragaman sosial penutur bahasa itu dan keragaman fungsi bahasa itu. Jadi variasi bahasa itu terjadi sebagai akibat dari adanya keragaman sosial dan keragaman fungsi bahasa. Kedua, variasi bahasa itu sudah ada untuk memenuhi fungsinya sebagai alat interaksi dalam kegiatan masyarakat yang beraneka ragam. Kedua pandangan ini dapat saja diterima ataupun ditolak. Yang jelas, variasi bahasa itu dapat diklasifikasikan berdasarkan adanya keragaman sosial dan fungsi kegiatan didalam masyarakat sosial. Namun Halliday membedakan variasi bahasa berdasarkan pemakai (dialek) dan pemakaian (register). Berikut ini akan dibicarakan variasi-variasi bahasa tersebut, dimulai dari segi penutur ataupun dari segi penggunanya.


1. Variasi dari Segi Penutur


a. idiolek, merupakan variasi bahasa yang bersifat perseorangan. Setiap orang mempunyai idiolek masing-masing. Idiolek ini berkenaan dengan “warna” suara, pilihan kata, gaya bahasa, susunan kalimat, dsb. Yang paling dominan adalah warna suara, kita dapat mengenali suara seseorang yang kita kenal hanya dengan mendengar suara tersebut Idiolek melalui karya tulis pun juga bisa, tetapi disini membedakannya agak sulit.


b. dialek, yaitu variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada di suatu tempat atau area tertentu. Bidang studi yang mempelajari tentang variasi bahasa ini adalah dialektologi.


c. kronolek atau dialek temporal, yaitu variasi bahasa yang digunakan oleh kelompok sosial pada masa tertentu. Sebagai contoh, variasi bahasa Indonesia pada masa tahun tiga puluhan, lima puluhan, ataupun saat ini.


d. sosiolek atau dialek sosial, yaitu variasi bahasa yang berkenaan dengan status, golongan dan kelas sosial para penuturnya. Dalam sosiolinguistik variasi inilah yang menyangkut semua masalah pribadi penuturnya, seperti usia, pendidikan, keadaan sosial ekonomi, pekerjaan, seks, dsb. Sehubungan dengan variasi bahasa yang berkenaan dengan tingkat, golongan, status, dan kelas sosial para penuturnya disebut dengan prokem.


2. Variasi dari Segi Pemakaian


Variasi bahasa berkenaan dengan penggunanya, pemakainya atau fungsinya disebut fungsiolek, ragam atau register. Variasi ini biasanya dibicarakan berdasarkan bidang penggunaan, gaya, atau tingkat keformalan dan sarana penggunaan. Variasi bahasa berdasarkan bidang pemakaian ini adalah menyangkut bahasa itu digunakan untuk keperluan atau bidang apa. Misalnya, bidang sastra, jurnalistik, pertanian, militer, pelayaran, pendidikan, dsb.


3. Variasi dari Segi Keformalan


Menurut Martin Joos, variasi bahasa dibagi menjadi lima macam gaya (ragam), yaitu ragam beku (frozen); ragam resmi (formal); ragam usaha (konsultatif); ragam santai (casual); ragam akrab (intimate). Ragam beku adalah variasi bahasa yang paling formal, yang digunakan dalam situasi khidmat dan upacara resmi. Misalnya, dalam khotbah, undang-undang, akte notaris, sumpah, dsb. Ragam resmi adalah variasi bahasa yang digunakan dalam pidato kenegaraan, rapat dinas, ceramah, buku pelajaran, dsb.


Ragam usaha adalah variasi bahasa yang lazim digunakan pembicaraan biasa di sekolah, rapat-rapat, ataupun pembicaraan yang berorientasi kepada hasil atau produksi. Wujud ragam ini berada diantara ragam formal dan ragam informal atau santai.


Ragam santai adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi tidak resmi untuk berbincang-bincang dangan keluarga atau teman pada waktu beristirahat, berolahraga, berekreasi, dsb. Ragam ini banyak menggunakan bentuk alegro, yakni bentuk ujaran yang dipendekkan.


Ragam akrab adalah variasi bahasa yang biasa digunakan oleh para penutur yang hubungannya sudah akrab, seperti antar anggota keluarga, atau teman karib. Ragam ini menggunakan bahasa yang tidak lengkap dengan artikulasi yang tidak jelas.


4. Variasi dari Segi Sarana


Variasi bahasa dapat pula dilihat dari segi sarana atau jalur yang digunakan. Dalam hal ini dapat disebut adanya ragam lisan dan tulis atau juga ragam dalam berbahasa dengan menggunakan sarana atau alat tertentu, misalnya bertelepon atau bertelegraf.





2.3 Bahasa Slang


Slang adalah ragam bahasa tidak resmi dan belum baku yang sifatnya musiman. Biasanya digunakan oleh kelompok sosial tertentu untuk berkomunikasi internal agar yang bukan anggota kelompok tidak mengerti. Slang diciptakan dari perubahan bentuk pesan linguistik tanpa mengubah isinya untuk penyembunyian atau kejenakaan. Slang merupakan transformasi sebagian dari suatu bahasa menurut pola-pola tertentu. Akar dari bahasa gaul adalah bahasa prokem. Bahasa prokem merupakan bahasa preman. Preman biasanya memakai bahasa prokem untuk berkomunikasi agar tidak diketahui oleh orang lain yang bukan komunitas preman tersebut. Dewasa ini, bahasa prokem tidak lagi menjadi bahasa “rahasia” melainkan menjadi bahasa gaul di suatu daerah atau komunitas tertentu. Berikut beberapa bentuk bahasa gaul yang sering ditemukan dalam percakapan sehari-hari:


1. Word Clipping


Suatu kata dipendekkan atau dipotong tanpa mengubah maknanya (misal: mike – microphone).


2. Onomatopoeia


Peniruan suara (misal: bang, boom, kukuruyuk).


3. Saying word from behind (malang’s prokem language)


Mengucapkan kata dengan membalikkan kata dari belakang ke depan (misal: ngalam – malang, uka – aku).


4. Menambahkan ‘F’ atau ‘S’ pada setiap suku kata (misal: afakufu mafaufu mafandifi – aku mau mandi)


5. Bahasa gaul selebritis (misal: sutralah – sudahlah, gue – aku, macan tutul – macet total,so what gitu lhoh)


6. Bahasa gaul kaum waria (misal: akika atau ike – aku, HIV – Hasrat Ingin Pipis, gaswat – gawat, makarena – makan)





BAB III
METODE PENELITIAN


3.1 Jenis Metode


Metode penelitian yang dilakukan oleh penulis menggunakan metode observasi dan wawancara.


1. Metode Observasi


Metode ini dilakukan oleh penulis dengan langsung terjun kelapangan, maksudnya penulis langsung melihat kegiatan dan tuturan dari anggota komunitas Crembol


2. Metode Wawancara


Metode ini dilakukan oleh penulis dengan mewawancarai pihak terkait yaitu Togok dan Brutus selaku anggota dari komunitas crembol.






3.2 Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilakukan pada tanggal 13 dan 20 Juni 2015 di Banaran





BAB IV
PEMBAHASAN


Banyak sekali sisi- sisi menarik dari bahasa yang dipakai berkomunikasi sehari-hari untuk diteliti. Sebagai sarana komunikasi bahasa dapat menyebarkan berbagai macam informasi. Bahasa dapat menghubungkan antarpemakainya tanpa batasan ruang dan waktu. Berbagai macam suasana; sedih, gembira, marah, santai ataupun serius dapat dideskripsikan melalui bahasa. Dari berbagai macam bentuk pemakaiannya, bahasa bahkan mampu mengungkapkan jati diri seseorang seperti; jenis kelamin, usia, pendidikan, pekerjaan, sosial budaya, hingga karakteristik penutur dan sebagainya.


Bahasa slang adalah variasi sosial yang bersifat khusus dan rahasia. Variasi ini digunakan oleh kalangan tertentu yang sangat terbatas dan tidak diketahui oleh kalangan di luar kelompok itu. Komunitas Crembol adalah salah satu contoh pengguna bahasa slang. Komunitas Crembol adalah sekumpulan anak-anak muda di daerah Banaran. mereka memiliki bahasa komunitas sendiri (slang) yang hanya dipahami oleh anggota komunitasnya agar percakapan mereka tidak dimengerti oleh orang lain di luar komunitasnya. Bahasa slang komunitas Crembol memiliki banyak istilah baru atau pemberian makna lain pada istilah umum yang sudah ada dengan cara mengambil kata secara asal tanpa memperhatikan kaidah pembentukan kata. Mereka mengambil kata secara utuh untuk digunakan sebagai kata baru dalam bahasa mereka namun telah terjadi pengubahan makna leksikal secara total, namun banyak pula kata yang tetap mengalami proses perubahan tanpa kaidah, misalnya pada kata – kata berikut:


1. CY yang dibaca CeYe yang artinya adalah congyang. Congyang adalah minuman keras khas dari Semarang


2. Tolik singkatan dari botol cilik yaitu congyang botol kecil


3. Noah yaitu towak


4. KL yang dibaca KaeL yaitu ciu


5. Kopi ireng yaitu congyang


6. Toldi singkatan dari botol gede yaitu congyang botol besar


7. Leci yaitu ciu


8. Gepengan putih yaitu vodka






Begitulah komunitas crembol bersama komunitasnya membentuk ragam bahasa slang agar bahasa mereka tidak dapat dimengerti oleh orang lain di luar komunitasnya. Berikut adalah contoh penggalan percakapan antara dua anggota komunitas crembol:






Togok : “ndes, tuku kopi ireng kono, pengen ki !”


Brutus : “tolik apa toldi?”


Togok : “tolik wae.”


Brutus : “campuri gepengan putih opo ora?”


Togok : “sembarang, san tuku KL mbe leci !”


Brutus : “kan wes ono CY mbek gepengan putih?”


Togok : “KL mbek lecine simpen kulkas kanggo sisuk meneh”






Marte : “wah, noahe wes main”


Argo : “ayo diombe bareng !”






Dialog ini terjadi ketika kedua anggota komunitas tersebut sedang saling berbicara tetapi dalam situasi bercanda. Variasi bahasa dari segi penuturnya, ini termasuk sosiolek khususnya slang karena hanya digunakan oleh komunitas Crembol saja.





BAB V
PENUTUP


5.1 Kesimpulan


Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh semua orang, baik dari kalangan atas maupun kalangan rendah. Itulah yang menyebabkan mengapa banyak sekali variasi dalam bahasa. Variasi bahasa adalah macam-macam bentuk bahasa yang berbeda. Variasi bahasa disebabkan oleh adanya kegiatan interaksi sosial yang dilakukan oleh masyarakat atau kelompok yang sangat beragam dan dikarenakan oleh para penuturnya yang tidak homogen. Bahasa slang adalah bahasa yang hanya diketahui oleh komunitas tertentu dan orang lain tidak mengerti. Komunitas Crembol mempunyai banyak bahasa slang yang tujuannya agar yang tau adalah anggota mereka sendiri.


5.2 Saran


Penulis melihat bahwa dalam pengerjaan dan penulisan tugas ini dirasa masih kurang sempurna, sehingga penulis mengharapkan kritik sekaligus saran dari pembaca untuk memperbaiki pekerjaan ini.





LAMPIRAN



Gambar 1. Jaket yang dipakai oleh Komunitas Crembol



Gambar 2. Jaket yang dipakai oleh komunitas Crembol





DAFTAR PUSTAKA


Chaer, Abdul. 1994. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta: Rineka Cipta.


Sumarsono. 2014. Sosiolinguitik. Yogyakarta: SABDA dan Pustaka Pelajar.


Suwito. 1985. Sosiolinguistik Pengantar Awal. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.


Wikipedia. 2015. “Slang”. https://id.wikipedia.org/wiki/Slang. (diunduh tanggal 12 Juni 2015).


Wikipedia. 2015. “Ragam Bahasa”. https://id.wikipedia.org/wiki/Ragam_bahasa. (diunduh tanggal 13 Juni 2015)


Wikipedia. 2015. “Komunitas”. https://id.wikipedia.org/wiki/Komunitas. (diunduh tanggal 13 Juni 2015).

Jumat, 25 Desember 2015

Resume Buku Sosiolinguistik Pengantar Awal



BAB VII
SIKAP BAHASA
7.1. Pengertian tentang sikap
Sikap bahasa (language attitude) adalah peristiwa kejiwaan dan merupakan bagian dari sikap (attitude) pada umumnya. Untuk mengamati sikap dapat dilakukan antara lain lewat perilaku. Hubungan antara sikap dan perilaku hanyalah sebagian saja dari sekian jenis hubungannya dengan factor-faktor lain.
Menurut Lambert sikap itu terdiri dari tiga komponen yaitu:
1.      komponen kognitif
komponen kognitif adalah komponen sikap yang bertalian dengan proses berfikir, jadi bersifat mental.
2.      Komponen afektif
Komponen afektif adalah komponen sikap yang menyangkut masalah yang berhubungan dengan perasaan dan nilai rasa. Misalnya rasa senang dan tidak senang, baik dan buruk, suka dan tidak suka.
3.       Komponen konatif
Komponen konatif adalah komponen sikap yang merujuk kepada perilaku atau perbuatan sebagai “putusan akhir” kesiapan reaktif terhadap sesuatu keadaan.
Denan demikian maka jelas bahwa sikap tidak saja bukan satu-satunya factor penentu perilaku, tetapi juga bukan salah sato factor penentu yang paling dominan.
7.2. Sikap bahasa
Sikap bahasa juga merupakan peristiwa kejiwaan sehingga tidak dapat diamati secara langsung. Sikap  bahasa dapat diamati antara lain lewat perilaku berbahasa atau perilaku tutur. Sikap bahasa cenderung mengacu kepada bahasa sebagai system (langue), sedangkan perilaku tutur lebih cenderung merujuk kepada pemakaian bahasa secara konkret (parole).
7.3. sikap positif dan sikap negative
Menurut Dittmar (1976:181) pengertian sikap bahasa ditandai oleh sejumlah ciri-ciri yang antara lain meliputi :
1.      Pemilihan bahasa dalam masyarakat multilingual.
2.      Distribusi perbendaharaan bahasa.
3.      Perbedaan-perbedaan dialectal dan problem-problem yang timbul sebagai akibat adanya interaksi antara individu-individu.
Sikap positif akan mendorong setiap penutur untuk sejauh mungkin mengurangi atau menghilangkan sama sekali warna bahasa daerah atau dialeknya dan akan sangat menunjang usaha pembakuan bahasa Indonesia. Begitu pula sebaliknya jika seorang penutur tidak pernah berusaha mengurangi apalagi menghilangkan warna daerah atau dialeknya, maka sikap positif belum tampak dari padanya, meskipun penutur tersebut belum tentu mempunyai sikap negative terhadap bahasa Indonesia dan usaha pembakuan bahasa Indonesia.
Sikap bahasa setidaknya mengandung tiga ciri pokok yaitu:
1.      Kesetiaan bahasa
Kesetiaan bahasa adalah sikap yang mendorong suatu masyarakat tutur mempertahankan kemandirian bahasanya.
2.      Kebanggaan bahasa
Kebanggaan bahasa adalah sikap yang mendorong seseorang atau kelompok orang menjadikan bahasanya sebagai lambing identitas pribadi atau kelompoknya.
3.      Kesadaran akan adanya norma bahasa
Kesadaran adanya norma bahasa adalah sikap yang mendorong penggunaan bahasa secara cermat, korek, santun, dan layak.
Untuk menanamkan sikap setia-bahasa, bangga-bahasa, dan sadar-norma bahasa, jalan yang harus ditempuh adalah dengan pendidikan bahasa yang pelaksanaannya didasarkan atas asas-asas pembinaan kaidah dan norma bahasa disamping norma-norma sosiolinguistik dan norma-norma budaya yang hidup di dalam masyarakat pemakai bahasa yang bersangkutan.